Jakarata, NU Online
Pemandangan tak
lazim mewarnai aksi panggung Ki Enthus Susmono saat mendalang pada
peringatan seribu hari kewafatan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di
Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (26/9) malam. Kecuali
blangkon, Ki Enthus bersama puluhan anggota timnya tak mengenakan
pakaian adat Jawa melainkan seragam lengkap Barisan Ansor Serbaguna
(Banser).
“Nyuwun pangestune Gus, Kulo damel seragam Banser
mubeng-mubeng (minta izin Gus, saya memakai seragam Banser berkeliling)
untuk membela Islam Ahlussunnah wal Jama’ah,” tuturnya dalam dialog
imajiner bersama Gus Dur.
“Ya, silakan aja. Lha wong gitu aja kok repot,” jawab Gus Dur seperti ditirukan Ki Enthus.
Ki
Enthus mengaku yakin, Gus Dur sedang hadir dalam pagelaran wayang kulit
dengan lakon “Kumbokarno Gugur” itu. Pementasan dimaksudkan untuk
mengenang dan memberi pesan kebaikan kepada masyarakat tentang
perjuangan Presiden RI ke-4 ini.
Di temani Megan, seorang sinden
asal Amerika Serikat, Ki Enthus bersama sinden lainnya juga melantunkan
beberapa lagu bernuansa NU, seperti Qasidah Nahdlatul Ulama karya KH
Fuad Hasyim Buntet, Mars Gerakan Pemuda Ansor, serta sejumlah shalawat
lainya.
Pembukaan pagelaran ditandai dengan penyerahan wayang
kulit oleh Ki Enthus kepada istri almarhum Gus Dur Ny Sinta Nuriyah
Abdurrahman Wahid. Ribuan pengunjung dari berbagai tempat tampak
antusias mengikuti pertunjukan khas Nusantara ini.
Ketua Umum GP
Ansor Nusron Wahid mengatakan, keberhasilan islamisasi di Indonesia tak
lepas dari dakwah kultural yang dilakukan para wali, termasuk lewat
wayang. Hal inilah yang kemudian membedakan keberagamaan NU dengan
lainnya.
“Kita bersyukur, kita bisa NU bukan karena jihad
(perang), tapi karena wayang,” ujarnya dalam sambutan pagelaran wayang
yang baru berakhir Kamis Subuh tadi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar